Senin, 08 Agustus 2011

10 Hottest Games Of My Favorites !

Meski tidak melibatkan klub-klub besar, jangan remehkan rivalitas mereka.
Derby bukanlah sekedar pertandingan sepakbola. Derby adalah partai yang mempertemukan dua rival bebuyutan dalam skala lokal yang umumnya berada dalam satu kota atau satu wilayah. Derby adalah hari di mana atmosfer stadion sesak oleh kepulan asap, bentangan spanduk raksasa, binar terang nyala flare, dan bising chant & bising suara nyanyian suporter yang bergaung sepanjang 90 menit tanpa henti. Derby adalah pergesekan dua perbedaan, mulai dari budaya, agama hingga politik.
Lupakan El Clasico, Derby Manchester, Derby della Madonina atau Derby d’Italia, berikut ini adalah partai-partai Derby di dunia yang tidak banyak disorot media.




1.Boca Juniors VS River Plate (Argentina)
"Super El Clasico". Rivalitas antara Boca Juniors dengan River Plate bukanlah rivalitas sepakbola, begitu banyak perang habis-habisan. Boca Junior merupakan anak-anak sisi Timur, bermain untuk sebuah tim dengan akar yang mendalam dalam budaya kelas pekerja Buenos Aires. Sementara itu, River Plate, mewakili penduduk istimewa di kota yang sama.
Pertandingan antara dua tim digambarkan sebagai Superclasico, derby sepak bola utama. Fans biasanya dipisahkan secara ketat dan dikenal saling mengejek satu sama lain dengan lagu-lagu dan slogan sepanjang pertandingan. Sudah lazim bagi Superclasico untuk mengakhiri dengan pertempuran bernada antara pendukung hardcore di jalanan Buenos Aires.




2.Rangers vs Celtic (Skotlandia)
"Old Firm Derby". Pertandingan dimainkan antara tim-tim 'Old Firm' apa yang disebut sepak bola Skotlandia berpotensi kerusuhan. Walaupun kedua tim berbasis di Glasgow, mereka telah menyebabkan kelompok pendukung yang sangat berbeda dan mencerminkan perjuangan politik di Irlandia.
Rangers secara tradisional memiliki basis dukungan pro-Inggris Protestan sementara Celtic memiliki basis dukungan nasionalis Katolik. Ketegangan antara kedua klub sangat ekstrim, dengan kekerasan norma daripada pengecualian. Penerimaan rumah sakit di Glasgow meningkat 9 kali lipat pada Derby 'Old Firm' dan ada rata-rata 150 penangkapan di stadion per game.





3.PSG vs Olympique Marseilles (Prancis)
Rivalitas antara Paris St Germain & Olympique Marseilles merupakan yang terbesar di Perancis. Persaingan lama ini sebuah cermin pemisah kuno antara Catholic North dan Protestant South. Marseilles merupakan Selatan sementara PSG merupakan Utara.
Tidak seperti banyak rivalitas sepakbola besar lainnya (yang telah menjadi lebih tenang dalam beberapa tahun terakhir), pertandingan PSG vs Olympique Marseilles menjadi lebih intens dan konfrontatif selama tahun-tahun terakhir. Kekerasan di stadion selama pertandingan ini tidak biasa, dan tindakan keamanan yang ketat diterapkan untuk memastikan bahwa kerusuhan tidak terjadi selama pertandingan.






4.Al-Ahly vs Zamalek (Mesir)
Derby Kairo, juga dikenal sebagai El Clásico Mesir atau Derby Mesir, adalah pertandingan sepak bola antar klub Mesir Al-Ahly SC dan Zamalek SC. Ini adalah pertandingan antara dua klub boleh dibilang paling sukses di Mesir dan Afrika. Ahly dan Zamalek diberi nama oleh Konfederasi Sepakbola Afrika CAF sebagai 1 dan 2 Klub terbaik Afrika abad ke-20. Kedua tim berada di Greater Kairo dan pertandingan mereka dianggap puncak musim sepak bola dengan siaran langsung ke sebagian besar negara-negara Arab sejak tahun tujuh puluhan. Biasanya Derby ini dimainkan dua kali setiap musim dengan 2 pertandingan di Liga Mesir, namun tidak jarang untuk menemukan kedua tim ini saling bertemu di Piala Mesir dan di kompetisi klub paling bergengsi Afrika, CAF Liga Champions. Rivalitas Sejak penciptaan kedua klub ini, telah menjadi klub sepakbola papan atas secara umum di Mesir. Penggemar kedua klub bisa menjadi biang kekerasan ketika dalam kemarahan. Banyak perkelahian, cedera dan kematian. Namun banyak perkelahian dan kerusuhan masih terjadi setelah pertandingan Derby antara kedua penggemar, menyebabkan pemerintah untuk posting nomor bahkan lebih tinggi dari tentara Pasukan Keamanan Tengah di stadion selama Derby. Jumlah perkelahian telah meningkat dengan meningkatnya popularitas gerakan ultras. Tidak heran bila Derby ini menjadi salah satu Derby terkejam di dunia.



5.Partizan Belgrade vs Red Star Belgrade (Serbia)
"The Eternal Derby" (Derby Abadi) juga disebut Derby Belgrade. pertandingan satu kota saingan sengit antara Red Star dan Partizan, dua dari team sepakbola terbesar dan paling populer di Serbia. Ini dimulai segera setelah penciptaan kedua klub pada 1945 dan kedua klub telah mendominansi di sepak bola domestik sejak saat itu.
Sebuah aspek dari derby Belgrade adalah penggemar yang menciptakan suasana mengesankan dengan nyaring bersorak dan koreografi asli. Kedua belah pihak mempersiapkan intens antara pertandingan, membuat bendera besar dan pesan khusus yang sesuai untuk kesempatan tertentu, akan biasanya diarahkan ke pendukung satu sama lain.
Partai terbesar, terpanas dan terkejam di Liga Serbia ini mengambil tempat di ibukota. Mengingat standar di liga negara ini tergolong rendah, salah satu faktor penarik adalah perseteruan pendukung kedua kubu. Perkelahian yang meninggalkan korban luka tusukan benda tajam adalah hal yang sudah dipersiapkan sebelum pertandingan. Rivalitas ini membuat daftar ketat karena para penggemar di Belgrade, Serbia. Di Derby ini selalu ada ancaman kekerasan fan konstan. Jika Anda pernah menghadiri salah satu dari permainan ini bersiaplah untuk melihat banyak polisi kerusuhan lengkap siap untuk menginjak-injak keluar api dari fans.






6.AS Roma vs Lazio (Italia)
"Derby Della Capitale". yaa Dari namanya, jelas bahwa derby ini adalah pertemuan dua klub ibukota Italia, Roma. AS Roma dan Lazio bermain di Stadion Olimpico. Derby ini dianggap sebagai Derby terhebat di Italia. Menurut sejarah ada faktor sosial-ekonomi yang membuat derby ini jadi “mengerikan”. Lazio dibentuk oleh mereka yang berstatus menengah ke atas dan bermarkas di Roma sebelah utara kota. AS Roma bermarkas di daerah miskin di sebelah selatan kota. Di dalam stadion, para suporter Roma menempati tribun sebelah selatan (curva sud) dan Lazio di sebelah utara (curva nord).




7.Ajax vs Feyenoord (Belanda)
Derby klasik Belanda, Ajax (Amsterdam) vs Feyenoord (Rotterdam). Ini persaingan antara dua kota terbesar Belanda, antara kota pusat keuangan (Amsterdam) vs kota pelabuhan (Rotterdam).
Persaingan antara fans kadang diwarnai unsur rasis. Secara sejarah pendukung Ajax datang dari masyarakat Yahudi-Belanda (walaupun pemain Ajax jarang yang
Yahudi). Pendukung Feyenoord kerap menyebut fans Ajax sebagai “hidung”, ini terkait bentuk fisik (hidung) orang Yahudi yang rata-rata besar. Pendukung Feyenoord juga sering menirukan suara desis gas yang terkait dengan kamar gas zaman Nazi. Sebaliknya, pendukung Ajax justru bangga dengan ke-yahudi-an mereka, bendera Bintang David selalu tampil di Stadion Arena. Yel-yel mereka juga “joden, joden” atau “yahudi, yahudi”.
Sejak dekade 80-an, persaingan fans kedua klub sering diwarnai bentrok fisik.
Konon dekade 80-an itu diwarnai tingginya pengangguran, sehingga dari kedua kubu banyak berkumpul hooligans yang niatnya bukan lagi nonton bola, tapi cuma mau bentrok.




8.West Ham vs Milwall (Inggris)
"East London Derby". 90% dari pembaca yang membaca tulisan ini mungkin sudah menonton film “Green Street Hooligans”. Ya, film itu memang menangkap momen rivalitas antara dua tim yang sama-sama bermarkas di sisi Timur kota London ini, meski Milwall pada akhirnya pindah ke bagian Selatan sungai Thames pada 1910.
Perseteruan ini bermula jauh dari lapangan hijau. Awal mula perselisihan dipercaya berasal dari persaingan antara dua kelompok pekerja galangan kapal yang berada di kedua sisi sungai Thames. Permusuhan meruncing pada 1926 saat pekerja di sisi West Ham mendapat serangan dan Milwall memutuskan untuk acuh dan tetap melanjutkan pekerjaan mereka. “Inter City Firm” yang membela West Ham akan selalu membuat kegaduhan dari tribun Bobby Moore di Upton Park. Teriakan mereka akan dibalas “Bushwackers” dan “The Treatment” dari sisi Milwall. Bukan suatu pemandangan yang aneh kalau lebih banyak polisi dibandingkan dengan pendukung tandang saat keduanya bertemu. Karena kekerasan adalah nama tengah dari East London Derby ini.




9.Galatasaray vs Fenerbahce (Turki)
"Istanbul Derby". Tolong jangan pernah remehkan intensitas laga ini meski Laut Bosphorus memisahkan kedua kubu. Ya, Fenerbahce berada di sisi Asia sementara Galatasaray menempati bagian Eropa di Turki. Atmosfer partai ini duhai luar biasa. 25.000 kursi di stadion Ali Sami Yen akan menyambut kedatangan sang lawan dengan salamnya yang terkenal, “Selamat datang di neraka”. Itu saja sudah cukup menjadi gambaran betapa berdarahnya partai ini.
Suhu kota Istanbul sudah mulai menghangat seminggu sebelum laga dan akhirnya akan mencapai titik didih di hari pertandingan. Sumbu yang konstan menyalakan udara panas sepanjang 90 menit siapa lagi kalau bukan barisan pendukung garis keras di kedua kubu. Fenerbahce memiliki “Genc-Fenerbahceliler” yang berarti Young Fenerbahce Supporters. Galatasaray diwakili oleh “ultrAslan”. Aslan adalah bahasa Turki yang berarti Singa, yang juga merupakan simbol klub.






10.PERSIJA vs PERSIB (indonesia)
"Derby D'Indonesia". Bisa dibilang ini adalah partai klasik dan partai yang selalu ditunggu di Liga Indonesia. Ya sejak dekade 1990-an, rivalitas Persija vs Persib semakin memanas. Karena itu, Kedua tim ini sepanjang pertemuannya memang dirasakan tak pernah nyaman. Atmosfer di stadion saat berlangsungnya partai ini sungguh sangat luar biasa. Saat Persija bertandang ke kandang Persib, pasti akan disambut tekanan dari "Viking" (pendukung garis keras Persib) kepada pemain-pemain Persija, mulai dari kedatangan, pertandingan, hingga kepulangan dari stadion. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa bila tim Persija diangkut dengan kendaraan lapis baja saat datang maupun meninggalkan stadion.
Nasib yang tak jauh berbeda juga dialami oleh Persib saat bertandang ke Jakarta. Teror dari "The Jak" (pendukung garis keras persija) juga sangat kerap dihadapi oleh penggawa Persib saat bermain di Jakarta. Bahkan pertandingan Persib-Persija ini secara rating TV bisa menyaingi, bahkan mengalahkan pertandingan sekelas Manchester United-Liverpool atau Barcelona-Real Madrid di TV swasta.
Pasalnya, ada banyak drama yang terjadi dalam setiap pertemuan dua tim ini. Tidak hanya di kalangan suporter tentunya, tapi aroma panas rivalitas kedua tim dirasakan hingga ke lapangan hijau oleh para pemain, dengan laga yang berlangsung dalam tempo tinggi.
Hampir tidak pernah bisa mulus bus pemain masuk ke stadion dengan aman tanpa gangguan, suasana panas tampak terasa dari sorotan mata para The Jak & Viking. Pendukung setia Persija & Persib itu tetap
menyiratkan permusuhan dalam menyambut kedatangan pemain dari masing-masing kubu.
Persija vs Persib benar-benar duel yang layak disebut "Derby D'Indonesia". Partai yang begitu banyak drama di dalam maupun di luar lapangan. Partai yang pantas disebut sebagai Derby terpanas di Asia. Karena itu bisa dipastikan duel keduanya akan terus melegenda dan mewarnai kompetisi sepakbola di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar